22 Des 2010

kakaaak ^_^

donlod aja deh disini
http://www.4shared.com/file/ufb_1EPM/Analisis_Data.html

just for u

Analisis Data
Data yang dianalisis dalam penelitian ini adalah data yang berasal dari data kuantitatif. Data kuantitatif yang akan dianalisis adalah data pretes, postes dan gain. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut:
Pretes
Pretes adalah tes yang diberikan sebelum pembelajaran dimulai dan bertujuan untuk mengetahui sampai dimana penguasaan siswa terhadap bahan pembelajaran yang akan diajarkan (Suherman, 2001:19)
Postes
Postes adalah tes yang bertujuan untuk mengetahui perbedaaan akhir siswa setelah pembelajaran dilakukan (Suherman, 2001:19).
Gain
Setelah pretes dan postes dilaksanakan, langkah selanjutnya adalah menghitung gain (peningkatan) kemampuan pemecahan masalah matematik siswa pada kelas dan kelas eksperimen. Gain yang digunakan untuk menghitung peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematik siswa adalah gain ternormalisasi kontrol (normalisasi gain). Adapun rumus dari gain ternormalisasi yang digunakan adalah sebagai berikut:

Normalisasi gain (g)=(skor postes-skor pretes)/(skor maksimum-skor pretes)
(Hake, 2003:3)
Tabel 6
Klasifikasi Normalisasi Gain
Koefisien Normalisasi gain Klasifikasi
g < 0,3
0,3 ≤ g < 0,7
g ≥ 0,7 Rendah
Sedang
Tinggi

Data-data yang telah dijelaskan di atas akan dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan statistik inferensial. Adapun penjelasannya sebagai berikut:
Statistik deskriptif
Adalah statistik yang berfungsi untuk menggambarkan hasil penelitian yang hanya berlaku untuk sampel yang diteliti dan tidak dapat digeneralisasi terhadap suatu populasi. Dalam statistik ini, data disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi, grafik, modus, mean, dan median. Manfaat statistik deskriptif ini adalah memberi alternatif kepada peneliti agar dapat memaparkan hasil penelitian secara visual.
Statistik inferensial
Adalah statistik yang dapat memberikan gambaran secara umum mengenai suatu populasi dengan hanya mengadakan penelitian terhadap sebagian kecil sampel penelitian. Dalam statistik inferensial terdapat beberapa pengujian, yaitu sebagai berikut:
Uji Prasyarat
Uji Normalitas
Uji normalitas digunakan untuk mengetahui kenormalan sebaran data penelitian. Data yang mempunyai distribusi normal merupakan salah satu syarat dilakukannya statistik parametrik (Sugiyono, 2008: 150). Data yang diuji adalah data pretes, postes dan gain. Adapun hipotesis yang akan diajukan dalam uji normalitas ini adalah sebagai berikut :
H0 : Sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal
H1 : Sampel berasal dari populasi yang tidak berdistribusi normal
Untuk menguji normalitas digunakan Uji Chi Kuadrat, dengan rumus statistik sebagai berikut :

χ^2=∑〖(O_i-E_j)〗^2/E_j
(Sudjana, 2002: 273)


Keterangan :
χ^2 = Nilai Chi Kuadrat
O_i = Frekuensi pengamatan atau observasi
E_j = Frekuensi yang diharapkan
Dengan taraf signifikasi 5% dan dk = n-1 serta dengan kriteria pengujian sebagai berikut (Riduwan dan Sunarto, 2009: 70) :
Jika 〖χ^2〗_(hitung )≤ 〖χ^2〗_(tabel ) maka terima H0
Jika 〖χ^2〗_(hitung )> 〖χ^2〗_(tabel ) maka tolak H0

Uji Homogenitas
Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah masing-masing data yang diperoleh dari kedua kelompok memilki variansi populasi yang sama atau berbeda. Data yang diuji adalah data pretes, postes dan gain. Adapun hipotesis yang akan diajukan dalam uji homogenitas ini adalah:
H0 : Tidak terdapat perbedaan varians kemampuan pemecahan masalah matematik siswa antara kelas eksperimen dan kelas kontrol
H1 : Terdapat perbedaan varians kemampuan pemecahan masalah matematik siswa antara kelas eksperimen dan kelas kontrol.
Untuk menguji homogenitas digunakan Uji F, dengan rumus statistik sebagai berikut :
F=(S_1^2)/(S_2^2 )
(Sudjana, 2002: 249)
Sedangkan untuk mencari nilai varians sampel adalah dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

S^2=(n(∑fX_i^2)-〖(∑〖fX〗_i)〗^2)/(n(n-1))
(Riduwan, 2003: 188)

Kriteria pengujian:
Jika F_(hitung )≤ F_(tabel ) maka terima H0
Jika F_(hitung )> F_(tabel ) maka tolak H0

Uji Statistik Parametrik
Apabila dari uji prasyarat menghasilkan data yang berdistribusi normal, maka analisis data yang dilakukan adalah statistik parametrik. Statistik yang digunakan adalah Uji t dua sampel dan Uji t* dua sampel.
Uji t
Uji t ini digunakan untuk menguji dua hipotesis yang diajukan yaitu hipotesis pertama dan hipotesis kedua. Untuk menguji hipotesis pertama, data yang diuji adalah data postes dari kelas kontrol dan kelas eksperimen. Sedangkan untuk menguji hipotesis kedua, data yang diuji adalah data gain ternormalisasi dari kelas kontrol dan kelas eksperimen. Jika data postes maupun data gain ternormalisasi yang diperoleh berdistribusi normal dan homogen berarti data kemampuan pemecahan masalah matematik siswa dari kedua kelas berdistribusi normal dan homogen.
Pada hipotesis pertama, uji t ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan antara kemampuan pemecahan masalah matematik siswa yang menggunakan pendekatan kontekstual dengan strategi pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) dengan kemampuan pemecahan masalah matematik siswa yang menggunakan pembelajaran konvensional. Adapun hipotesis yang diajukan sebagai berikut :
H0 : Tidak terdapat perbedaan kemampuan pemecahan masalah matematik siswa yang menggunakan pendekatan kontekstual dengan strategi pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) dengan siswa yang menggunakan pembelajaran konvensional.

H1 : Terdapat perbedaan kemampuan pemecahan masalah matematik siswa yang menggunakan pendekatan kontekstual dengan strategi pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) dengan siswa yang menggunakan pembelajaran konvensional.

Sedangkan pada hipotesis kedua, uji t ini bertujuan untuk mengetahui apakah rerata peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematik siswa yang menggunakan pendekatan kontekstual dengan strategi pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) lebih baik daripada pembelajaran konvensional. Adapun hipotesis yang diajukan dalam Uji t ini adalah sebagai berikut:
H0 : Peningkatan rerata kemampuan pemecahan masalah matematik siswa yang menggunakan pendekatan kontekstual dengan strategi pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) kurang baik atau sama dengan siswa yang menggunakan pembelajaran konvensional.
H1 : Peningkatan rerata kemampuan pemecahan masalah matematik siswa yang menggunakan pendekatan kontekstual dengan strategi pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) lebih baik daripada siswa yang menggunakan pembelajaran konvensional.
Untuk Uji t yang berdistribusi normal dan homogen ini digunakan rumus statistik sebagai berikut :

t=(X_1 〖-X〗_2)/(√((〖(n〗_1-1)S_1^2 (n_2-1)S_2^2)/(n_1+n_2-2)) [1/n_1 +1/n_2 ] )
(Sudjana, 2005: 239)


Keterangan :
X_1 = Rerata sampel kelas ekperimen
X_2 = Rerata sampel kelas kontrol
S_1^2 = Varians sampel kelas eksperimen
S_2^2 = Varians sampel kelas kontrol
n_1 = Jumlah sampel kelas ekperimen
n_2 = Jumlah sampel kelas control

Dengan derajat kebebasan untuk daftar distribusi t adalah (n_1+n_2-2) dan peluang (1 – α)
Kriteria pengujian:
Jika t hitung ≤ t 1 – α , maka terima H0
Jika t hitung > t 1 – α , maka tolak H0

Uji t*
Uji t* ini dilakukan apabila data berdistribusi normal dan tidak homogen artinya data kemampuan pemecahan masalah matematik siswa dari kedua kelas berdistribusi normal tetapi datanya tidak homogen.. Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut :

t^*=(X_1-X_2)/√((S_1^2)/(n_1^2 )+(S_2^2)/(n_2^2 ))
(Sudjana, 2005: 241)
Kriteria pengujiannya adalah : tolak H0 jika t* ≥ (w_1 t_1+w_2 t_2)/(w_1+w_2 ) dan terima H0 jika sebaliknya, dengan w_1=S_1^2/n_1, w_2=S_2^2/n_2, t_1=t_((1-α),(n_1-1) ) dan t_2=t_((1-α),(n_2-1) ). Sedangkan dk masing-masing adalah (n_1-1) dan (n_2-1).



Untuk hipotesis yang ketiga, bila data yang diperoleh berdistribusi normal maka uji yang dilakukan adalah One Way Anova. Untuk menghitung nilai Anova atau Fhitung, rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:
F=(MS_b)/(MS_w )


Dengan
MS_b=(SS_b)/(dkSS_b )
MS_w=(SS_w)/(dkSS_w )

Keterangan:
SS_b = Jumlah kuadrat antar kelompok
SS_w = Jumlah kuadrat dalam kelompok
dkSS_b = Derajat kebebasan antar kelompok
dkSS_w = Derajat kebebasan dalam kelompok
(Irianto, 2008: 2007)
Hipotesis yang diajukan adalah :
H0 : Tidak terdapat perbedaan peningkatan rerata kemampuan pemecahan masalah matematik antara kelompok siswa yang berkemampuan tinggi, sedang dan rendah yang menggunakan pendekatan kontekstual dengan strategi pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI).
Ha : Terdapat perbedaan peningkatan rerata kemampuan pemecahan masalah matematik antara kelompok siswa yang berkemampuan tinggi, sedang dan rendah yang menggunakan pendekatan kontekstual dengan strategi pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI).


Untuk kriteria pengujiannya adalah : tolak H0 jika Fhitung > Ftabel dan terima H0 jika Fhitung < Ftabel, dengan Ftabel = F(1 - α)(dkSSb,dkSSw). Jika H0 ditolak, maka dilakukan analisis pasca Anova. Langkah analisis pasca Anova yaitu (Irianto, 2008: 233):
Pertama, hitung Tukey’s HSD
Rumus :
HSD=q√(〖MS〗_w/n)

Keterangan :
n = Banyaknya sampel per kelompok
q = The Studenzed range statistic, dilihat dalam tabel yang sudah disusun dengan memakai alpha (α), k dan dk
k = Banyaknya kelompok
dk = N – k
Kedua, cari perbedaan rerata antar kelompok.
Ketiga, membandingkan perbedaan rerata antar kelompok dengan hasil perhitungan HSD. Apabila perbedaan rerata antar kelompok lebih besar daripada nilai HSD, maka perbedaan tersebut dapat dikatakan signifikan.
Adapun langkah-langkah untuk menentukan kedudukan siswa dalam kelompok adalah sebagai berikut (Arikunto, 2008:264): (1) Menjumlah skor siswa, (2) Mencari nilai rerata (Mean) dan simpangan baku, (3) Menentukan batas-batas kelompok; kelompk atas yaitu siswa yang mempunyai skor sebanyak skor rata-rata +1 SD (Standar Deviasi), kelompok sedang yaitu siswa yang mempunyai skor antara -1 SD dan +1 SD, dan kelompok rendah yaitu siswa yang mempunyai skor -1 SD dan yang kurang.
Rumus mencari Mean :
x=(∑x)/N

Rumus mencari Standar Deviasi :
SD=√((∑x^2)/N-((∑x)/N)^2 )


Uji Statistik Non-Parametrik
Uji statistik non-parametrik dilakukan jika diketahui data yang diperoleh tidak berdistribusi normal atau n < 30. Dalam penelitian ini, uji statistik non-parametrik yang dilakukan adalah menggunakan Uji-Mann Whitney U-Test (Supranto, 2001: 304). Terdapat dua buah rumus yang digunakan dalam pengujian ini, yaitu U1 dan U2. Kedua rumus tersebut digunakan untuk mengetahui nilai yang lebih kecil. Nilai U yang lebih kecil tersebut kemudian digunakan untuk pengujian dan dibandingkan dengan U tabel. Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut :

U_1=n_1 n_2 (n_1 (n_1+1))/2-R_1
U_2=n_1 n_2 (n_2 (n_2+1))/2-R_2
(Sugiyono, 2005: 275)
Keterangan :
U_1 = Jumlah peringkat 1
U_2 = Jumlah peringkat 2
R_1 = Jumlah rangking pada sampel n_1
R_2 = Jumlah rangking pada sampel n_2
n_1 = Jumlah sampel 1
n_2 = Jumlah sampel 2



Adapun untuk pengujian hipotesis yang ketiga, bila data yang diperoleh tidak berdistribusi normal maka uji non-parametrik yang digunakan adalah uji Kruskal-Walls. Secara matematis dapat dituliskan:
H=12/(n(n+1))∑(R_k^2)/(n_k^2 )-3(n+1)
Dimana:
n = Banyak baris dalam tabel
k = Banyak kolom
R_k = Jumlah Ranking dalam kolom
(Hasan, 2004: 177)

8 Okt 2010

SKENARIO PEMBELAJARAN

REALISTIC MATHEMATICS EDUCATION (RME)

Murid yang terdiri dari 20 orang telah berada di tempatnya masing-masing sebelum pelajaran dimulai, lalu saat guru telah datang dan duduk ditempatnya pelajaran pun dimulai.

Ketua kelas : “Duduk siappp!!! Berdo’a mulai!!!”.
Selesai!!! Beri salam!!!
Murid : “Assalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh”
Guru : “Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh”
“Bagaimana anak-anak, sudah siap belajar?”
Murid : “Siap bu guru..”
Guru : “Baiklah mari kita mulai,.”
“Materi kita kali ini adalah bilangan pecahan..”
“Ada yang tahu bilangan pecahan itu apa?”
Murid 1 : “Bilangannya kaca bu.. makanya disebut bilangan pecahan..”
Guru : “Bagus,.tapi bukan itu jawaban yang sebenarnya, bilangan pecahan adalah bilangan…….. (walaupun jawabannya salah tapi guru tetap menghargai keberaniaan anak tersebut).
Guru : (bercerita)
“Ada seorang ibu, ia mempunyai 2 potong roti. Tapi Ibu tersebut memiliki 4 orang anak. Nah, bagaimanakah ibu tersebut membagi 2 potong roti kepada 4 orang anaknya sehingga setiap anak mendapat bagian yang sama?”
”Untuk menjawab itu mari kita cari jawabannya”.
Guru : (Guru membagi 20 murid kedalam 5 kelompok)
Kelompok alfa : A, B, C, D.
Kel beta : E, F, G, H.
Kel gamma : I, J, K, L.
Kel delta : M, N, O, P.
Kel epsilon : Q, R, S, T.
Guru : (Guru membagikan 2 potong roti dan sebuah pemotong roti kepada setiap kelompok)
”Ibu akan membagikan roti ini kepada kalian, setiap kelompok mendapatkan 2 potong roti dan sebuah pemotong roti”.
Guru : ”Pertanyaannya, Bagaimana 2 potong roti itu bisa dibagikan kepada semua anggota kelompok dengan bagian yang sama (rata)? Ibu kasih waktu 15 menit untuk menyelesaikannya”
(Pada saat kelompok mengerjakan soal yang diberikan, guru selalu berkeliling kesetiap kelompok untuk mengamati dan membimbing setiap kelompok)
Guru : (Setelah 15 menit)
”Anak-anak waktu nya sudah habis, jangan ada lagi yang mengerjakan. Sekarang kita akan mengundi, kelompok apa yang akan mempresentasi kan hasil kerja kelompoknya”
(Setelah diundi, yang pertama presentasi adalah kelompok ”delta”)
Guru : ”Dari kelompok ”delta” siapa yang akan menunjukkan hasil kerja kelompoknya?”
Kel delta : ”15 bu......”
Guru : ”Baik ayo silahkan maju 15, dan untuk kelompok lain tolong perhatikan temannya yang didepan dan berikan pertanyaan atau komentarnya!!!”
Murid 15 : ”Yang kami lakukan adalah, karena jumlah anggota kelompok kami 4 orang, agar lebih mudah membaginya kami memotong 1 roti menjadi 4 bagian yang sama dan roti yang 1 lagi pun kami potong menjadi 4 bagian yang sama, sehingga roti tersebut menjadi 8 potongan dan kami berikan satu per satu kepada anggota kelompok . Setelah semua potongan habis, satu orang dari kami mendapat 2 potong yang sama dengan yang lainnya”.
Guru : ”Bagus sekali.. Beri tepuk tangan!!”
Guru : ”Dari kelompok lainnya apakah ada yang ingin menanggapi?”
Kel beta : ”Hal yang dilakukan oleh kelompok delta, sama halnya dengan yang kelompok kami kerjakan. Sedikit menambahkan jadi masing-masing orang dari kelompok kami mendapatkan 2/8 roti.
Guru : ”Yuph.. bagus sekali tanggapan dari kelompok beta”
”Sekarang yang maju adalah kelompok alfa!! Siapa yang mau maju?”
Kel alfa : ”Murid B bu..
Guru : ”Baiklah silahkan maju murid B”
Murid B : ”Hal yang kami lakukan adalah yang sangat mudah. kami membagi satu roti kepada dua orang untuk dibagi sama rata.. Sehingga kami mendapatkan satu dari 4 potong roti. Sehingga setiap orng mendapatkan ¼ roti..
Guru : ”Good job.. dari kelompok lain ada yang memberi tanggapan?
Kel gamma : ”Kami bu..” Hal yang sama dengan yang kami lakukan pula.. bedanya kami tetap menyatukan ke 2 roti tersebut lalu kami potong menjadi 4 bagian. Sehingga masing-masing dari kami mendapat ¼ roti.
Kel epsilon : ”Iidem dengan kel alfa..
Guru : ”Ada yang mau ditanyakan anak-anak?
Murid F : ”Kenapa hasil yang didapat kelompok tidak sama, kelompok saya dan delta setiap orang mendapat 2/8 roti sedangkan kelompok lain ¼ roti?”
Guru : ”Pertanyaan yang bagus.. Ada yang bisa jawab?”
Murid B : ”Saya bu.. Sebenarnya jika kita sama kan roti yang kita masing-masing dapat adalah sama.. karna 2/8 jika kita sederhanakan menjadi = ¼.
Guru : ”Beri tepuk tangan untuk murid B!!!”
(meriah)....
”Jadi kesimpulannya kalian telah bisa memecahkan masalah tersebut dengan cara kalian masing-masing”.
Guru : ”Sekarang kita perkecil kelompok menjadi 4 kelompok saja.. anggota kelompok epsilon silahkan masuk le setiap kelompok yang lain..
(Sehingga kelompok menjadi) :
Kel alfa : A, B, C, D, Q.
Kel beta : E, F, G, H, R.
Kel gamma : I, J, K, L, S.
Kel delta : M, N, O, P ,T.
Guru : ”Semua sudah dapat kelompok?”
Murid : ”Sudah ibuu...”
Guru : ”Seperi tadi lagi, ibu akan memberikan lagi 2 potong roti kepada kalian,.
Bagaimana sehingga 2 roti tersebut dapat kalian bagi secara rata ke setiap anggota kelompok kalian.??” Ibu kasih waktu 15 menit untuk
mengerjakannya..”
Murid : ”Baik buguru..”
(sama seperti diskusi yang pertama tadi, pada saat kelompok mengerjakan soal yang diberikan, guru selalu berkeliling kesetiap kelompok untuk mengamati dan membimbing setiap kelompok)
Guru : (Setelah 15 menit)
”Anak-anak waktu nya sudah habis, jangan ada lagi yang mengerjakan. Sekarang kita akan mengundi, kelompok apa yang akan mempresentasi kan hasil kerja kelompoknya”
(Setelah diundi, yang pertama presentasi adalah kelompok ”beta”)
Murid F : ”Kami memotong masing - masing roti menjadi lima bagian sehingga sepotong roti dapat dibagi lima sama rata, karena rotinya ada dua buah jadi tiap anak mendapat dua potongan tadi. Atau tepatnya tiap anak mendapat 2/10 bagian. Hmm.. betul begitu kan bu?”
Guru : ”Tepat sekali.. Beri tepuk tangan..”
(Ramai)
Ada yang mau memberi tanggapan atau melengkapi lagi anak - anak?”
Kel delta : ”Murid O buu..”
Guru : ”Ya, silahkan murid O”
Murid O : ”Bila semua potongan roti disatukan maka dua potongan sama besar tadi seperti menjadi 1/5 bagian. Jadi sebenarnya sama saja antara 2/10 dan 1/5.”
Guru : ”Ya, benar sekali murid O.. Pecahan 2/10 sama saja atau dapat di sederhanakan menjadi 1/5. Sekarang coba bandingkan, besaran mana antara potongan roti yang 2/8 tadi dengan potongan roti 2/10 barusan?”
Murid : ”Potongan roti 2/8 yang lebih banyak bu..”
Guru : ”Tepat sekali. Nah, sekarang siapa yang bisa menyimpulkan apa yang kita dapat dari kedua percobaan terhadap roti tadi?”
Murid I : ”Saya bu.”
(Guru mempersilahkan)
Makin besar jumlah pembilang suatu bilangan pecahan kemungkinan makin kecilah nilainya.”
Guru : ”Betul itu murid - murid, makin besar pembilang suatu bilangan pecahan semakin kecilah nilai pecahan tersebut, dengan catatan, penyebutnya sama.”
”Mengerti murid - murid?”
Murid : ”Mengerti bu..”
Guru : ”Nah, sekarang coba kerjakan soal - soal ini.”
Setelah itu guru memberi tugas yang harus diselesaikan secara individu untuk mengukur tingkat pemahaman tiap muridnya.

Contoh instrumen soalnya sebagai berikut :

Kerjakan Soal - Soal Dibawah Ini dengan Memberikan Tanda >, <, atau = !
1. 2/3 ... 1/3
2. 4/7 ... 6/7
3. 5/9 ... 7/9
4. 1/2 ... 2/4
5. 1/2 ... 2/3
6. 2/8 ... 1/4
7. 1/5 ... 3/15
8. 4/5 ...5/4
9. 3/4 ... 5/6
10. 3/2 ... 2/3

Selesaikan Soal Cerita Dibawah ini !
1. Bu Ami membuat sebuah cake yang akan dibagikan sama rata kepada ketiga anaknya.. Berapakah bagian untuk masing - masing anaknya?
2. Pa Kukuh memiliki dua buah semangka yang akan dimakannya bersama istri dan ketiga anaknya. Masing - masing anggota keluarga mendapat bagian yang sam banyak. Berapakah bagian untuk masing - masing anggota keluarga Pa Kukuh?
3. Ibu memberikan Ani setengah bagian kue nya, sedangkan kakak hanya mengambil seperempat bagian kue. Siapa yang memiliki lebih banyak bagian kue ibu?
4. Rina memiliki sebuah pita yang panjangnya 6/7 meter. Sisi memiliki pita yang panjangnya 4/5 meter. Sedangkan Tami memiliki pita sepanjang 7/9 meter. Siapakah yang memiliki pita terpanjang?
5. Kebun pak Tani ditanami Jagung 1/3 bagian, kacang 2/4 bagian dan singkong 1/6 bagian. Urutkan tanaman dari yang memiliki lahan paling luas !

4 Apr 2010

Metode Penelitian Bab I

PENDEKATAN ILMIAH DALAM PENDIDIKAN

1. SUMBER PENGETAHUAN.
Sumber-sumber pengetahuan dapat dikelompokan menjadi 5, yaitu sebagai berikut:
1. Pengalaman.
2. Otoritas.
3. Cara berfikir deduktif.
4. Cara berfikir induktif.
5. Pendekatan ilmiah.

1.1. Pengalaman.
Pengalaman sebagai sumber kebenaran, mempunyai keterbatasan. Ada kalanya pengaruh suatu kejadian terhadap seseorang, akan bergantung kepada siapa orang itu. Dua oang yang mengalami situasi yang sama mungkin akan memperoleh pengalaman yang berbeda.
Kelemahan lain dari pengalaman ialah bahwa seringkali seseorang perlu mengetahui hal-hal yang tidak dapat dipelajari/diketahui lewat pengalaman sendiri.

1.2. Otoritas / wewenang.
Wewenang atau otoritas maksudnya orang mencari jawaban peranyaan itu dari orang lain yang telah mempunyai pengalaman dalam hal itu, atau yang mempunyai sumber keahlian lainnya. Apa yang dikerjakan oleh orang yang kita ketahui mempunyai wewenang itu, kita terima sebagai suatu kebenaran.
Erat hubungannya dengan wewenang adalah kebiasaan dan tradisi. Para pendidik menganggap praktek-praktek di masa lalu sebagai pedoman yang dapat dipercaya, tapi terungkap bahwa banyak tradisi yang telah berlangsung bertahun-tahun lamanya kemudian terbukti salah dan harus ditolak.
Kelemahan dari wewenang. Pertama, orang-orang yang berwenang itu juga bisa salah, juga orang yang dianggap berwenang itu berbeda pendapat tentang beberapa masalah.

1.3. Cara berfikir deduktif.
Aristotheles dan para pengikutnya memperkenalkan penggunaan cara berfikir deduktif, yang dapat dirumuskan sebagai suatu proses berfikir yang bertolak dari pernyataan yang berbentuk umum ke pernyataan yang lebih khusus dengan memakai kaidah logika tertentu.ini adalah suatu sistem penyusunan fakta yang telah diketahui guna mencapai kesimpulan.
Hal ini yang dinamakan silogisme, yaitu :
semua manusia adalah makhluk hidup (premis mayor)
socrates adalah seorang manusia (premis minor).
socrates adalah seorang makhluk hidup (kesimpulan).
Akan tetapi, juga memiliki keterbatasan. Kesimpulan silogisme tidak pernah melampaui isi premis-premisnya. Karena selalu merupakan perluasan dari pengetahuan yang sudah ada sebelumnya, sehingga dalam penyelidikan ilmiah sulit menentukan kebenaran universal dari berbagai penyataan mengenai gejala ilmiah.

1.4. Cara berfikir induktif.
Francis bachon berpendapat bahwa para pemikir hendaknya tidak merendahkan diri begitu saja dengan menerima premis orang yang memiliki otoritas sebagai kebenaran mutlak. Ia yakin bahwa seorang penyidik dapat membuat kesimpulan umum berdasarkan fakta yang dikumpulkan melalui pengamatan langsung.
Bagi ia, untuk memperoleh pengetahuan, seseorang harus mengamati alam itu sendiri, mengumpulkan fakta-fakta, dan merumuskan generalisasi dari hasil-hasil tersbut.
Perbedaan antara cara berfikir deduktif dan induktif dapat dilihat dari contoh berikut:
a. deduktif : Setiap binatang menyusui memiliki paru-paru.
Kelinci adalah binatang menyusui.
Oleh karna itu, setiap kelinci memiliki paru-paru.

b. induktif : Setiap kelinci yang pernah diamati memiliki paru-paru.
Oleh karna itu, setiap kelinci memiliki paru-paru.

1.5. Pendekatan ilmiah.
Pendekatan ilmiah biasanya dilukiskan sebagai proses dimana penyelidik secara induktif bertolak dari pengamatan mereka menuju hipotesis. Kemudian secara deduktif peneliti bergerak dari hipotesis ke implikasi logis hipotesis tersebut.Kemudian menarik kesimpulan mengenai akibat yang akan terjadi apabila hubungan yang diduga itu benar. Apabila implikasi yang diperoleh secara deduktif ini sesuai dengan pengetahuan yang sudah diterima kebenarannya, maka selanjutnya implikasi tersebut diuji dengan data empiris (yang dikumpulkan). Berdasarkan bukti-bukti ini, maka hipotesis ini dapat diterima atau ditolak.
Penggunaan hipotesis merupakan perbedaan utama antara pendekatan ilmiah dan cara berpikir induktif. Dengan cara induktif kita melakukan pengamatan terlebih dahulu dan baru kemudian menyusun informasi yang diperoleh. Pada umumnya dianggap bermanfaat kalau pendekatan ilmiah disajikan sebagai suatu rangkaian langkah yang harus diikuti. Perumusan secara pasti tentang langkah tersebut mungkin akan berbeda antara satu pengarang dengan pengarang yang lain.
Langkah langkah dalam pendekatan ilmiah adalah sebagai berikut:
1.5.1. Perumusan masalah.
Penyelidikan ilmiah bermula dari suatu masalah atau persoalan yang memerlukan pemecahan. Agar dapat diselidiki secara ilmiah, suatu persoalan harus memiliki satu ciri penting. Persoalan tersebut harus dapat dirumuskan sedemikian rupa, sehingga dapat dijawabdengan pengamatan dan percobaan didunia ini.
1.5.2. pengajuan hipotesis.
Pada tahap ini mengharuskan peneliti membaca bahan bacaan yang berkaitan dengan masalah itudan berfikir lebih mendalam lagi.
1.5.3. Cara berfikir deduktif.
Melalui proses berfikir deduktif, implikasi hipotesis yang diajukkan itu, yaitu apa yang akan dapat diamati jika hipotesis tersebut benar ditetapkan.
1..5.4. Pengumpulan dan analisis data.
Hipotesis atau lebih tepatnya implikasi yang diperoleh melalui deduksi, diuji dengan jalan mengumpulkan data yang ada hubungannya dengan masalah yang diselidiki melalui pengamatan, tes dan eksperimentasi.
1.5.5. penerimaan atau penolakan hipotesis.
Setelah data dikumpul, maka hasilnya dianalisisuntuk menetapkan apakah penyelidikan memberi bukti-bukti yang mendukung hipotesis atau tidak.



2. HAKEKAT ILMU.
Disini dikatakan bahwa semua ilmu, meskipun mungkin berbeda satu dengan lain dalam hal bahan atau tekhnik khususnya, mempunyai persmaan dalam metode umum untuk mencapai pengetahuan yang dapat dipercaya(reliabel).
Ada beberapa aspek pendekatan ilmiah yang di bahas disini, yaitu :
1. Asumsi yang dibuat oleh ilmuan.
2. Sikap para ilmuan.
3. Puncak teori ilmiah dalm bentuk perumusan teoritis.

2.1. Asumsi yang dibuat oleh ilmuan.
Asumsi dasar yang dibuat oleh ilmuan menyatakan bahwa kejadian-kejadian yang mereka teliti bersifat tata hukum atau tertib. Ilmu didasarkan pada keyakinan bahwa semua gejala alam mempunyai faktor antiseden (sebab akibat) yang dapat diketahui melalui pengamatan.

2.2. Sikap para ilmuan.
ilmuan pada dasrnya adalah orang yang sangsi, yang selalu meragukan setiap data ilmu.
-ilmuan bersikap objektif dan tidak memihak
-ilmuan berurusan dengan fakta-fakta, bukan dengan nilai-nilai.
-ilmuan tidak puas dengan fakta yang terpisah-pisah, melainkan terus berusaha menyatukan dan menyusunhasil-hasil penyelidikannya secara sistimatis.

2.3. Teori ilmiah.
Tujuan akhir ilmu adalah membentuk teori. Teori ilmiah adalah suatu keterangan sementara tentang gejala-gejala. Dari keterangan ini kita bisa meneruskan ke ramalan dan akhirnya ke pengendalian. Meskipun tujuan akhir ilmu adalah pembangunan teori, usaha yang bersifat ilmiah akan menghasilkan :
-keterangan.
-ramalan.
-pengendalian.
2.3.1. macam-macam teori.
Teori yang terutama dikembangkan untuk menjelaskan pengamatan-pengamatan sebelumnya dikenal sebagai teori induktif. Sedangkan suatu teori yang yang dilakukan dengan sedikit atau tanpa pengamatan terhadap gejala-gejala, dapt digolongkan sebagai teori deduktif-hipotesis.
2.3.2. kegunaan teori.
1. meringkas dan menyusun pengetahuan yang ada dalam suatu bidang tertentu.
2. menjelaskan dan memberi arti kepada hasil penyelidikan empiris yang telah dilakukn sebelumnya dan masih terpisah-pisah.
2.3.3. ciri-ciri teori.
Ciri-ciri teori yang baik:
1 teori harus dapat menerangkan fakta hasil pengamatan yang ada hubungannya dengan suatu masalah.
2. teori harus konsisten dengan fakta yang diamati dan dengan kerangka pengetahuan yang mapan.
3. teori harus memberikan cara pembuktian kebenarannya.
4. teori harus merangsang penemuan baru dan menunjukkan bidang-bidang baru yang perlu diselidiki.

2.4. keterbatasan-keterbatasan pendekatan ilmiah dalam ilmu-ilmu sosial.
Ada beberapa keterbatasan dalam penerapan pendekatan ilmiah ke bidang pendidikan dan ilmu-ilmu sosial. Diantaranya:
2.4.1. kepelikan masalah.
Hambatan yang utama terdapat pada kepelikan ilmu-ilmu sosial itu sendiri.
2.4.2. kesukaran dalam pengamatan.
Pengamatan ilmu sosial lebih sukar dibanding ilmu alam, karena pengamatan lebih bersifat subjektif dan non fisik.
2.4.3. kesukaran dalam replikasi.
Gejala gejala dalam ilmu sosial adalah kejadian tunggal yang sulit untuk diulangi untuk tujuan pengamatan.
2.4.4. interaksi antara pengamatan dan subjek.
Penyidik adalah manusia, yang kehadirannya sebagai suatu pengamatdapat mempengaruhi manusia lain yang menjadi subjeknya.
2.4.5. kesukaran dalam pengendalian.
2.4.6. masalah pengukuran.



3. HAKEKAT PENELITIAN.

3.1. Penelitian pendidikan.
Jika pendekatan ilmiah diterapkan untuk menyelidiki masalah-masalah pendidikan, maka hasilnya adalah penelitian pendidikan. Penelitian pendidikan adalah cara yang digunakan orang untuk mendapatkan informasi yang berguna dan dapat dipertanggungjawabkan mengenai proses kependidikan .

3.2. Tahap-tahap penelitian.
3.2.1. Memilih masalah.
Penelitian dimulai dengan suatu pertanyaan yang menyangkut persoalan yang cukup penting untuk dijadikan masalah penelitian.
3.2.2. Tahap analisis.
Tahap ini menuntut pengkajian yang mendalam terhadap hasil-hasil penelitian sebelumnya, yang mungkin telah dilakukan terhadap masalah tersebut.
3.2.3. Memilih strategi penelitian dan mengembangkan instrument.
Pemilihan metode penelitian akan mempengaruhi penyusunan rancangan penyelidikan dan prosedur pengukuran variabel.
3.2.4. Mengumpulkan data dan menafsir data.
Setelah mengumpulkan data dengan berbagai cara, data harus dianalisis, biasanya secara statistik. Kemudian peneliti melakukan penafsiran yang tepat terhadap hasil penelitian yang diperoleh.
3.2.5. Melaporkan hasil penelitian.
Para peneliti harus berusaha agar prosedur, hasil dan kesimpulan penelitian mereka tersaji dalam bentuk yang dapat dimengrti oleh orang lain, yang mungkin berminat terhadap masalah yang diteliti.

3.3. masalah penelitian yang diajukan oleh para peneliti pendidikan.
3.3.1. masalah penelitian yang bersifat teoritis.
Penelitian dengan orientasi teoritis dapat ditujukan kearah pengembangan teori atau pengujian teoriyang sudah ada.
3.3.2. masalah penelitian yang bersifat praktis.
Ditujukan untuk memecahkan masalahkhusus yang dihadapi para pendidik dalam kegiatan mereka sehari-hari.

3.4. Penelitian dasar dan terapan.
Penelitian dasar adalah penelitian yang bertujuan memperoleh data empiris yang dapat digunakan untuk merumuskan,memperluas, atau mengevaluasi teori.
Sedangkan penelitian terapan adalah penelitian yang bertujuan memecahkan persoalan praktis yang mendesak.


4. METODOLOGI PENELITIAN DALAM PENDIDIKAN.
Metodologi penelitian adalah strategi umum yang dianut dalam pengumpulan dananalisis data yang diperlukan, guna menjawab persoalan yang dihadapi.
Kategori dalam penelitian pendidikan adalah sebagai berikut :
1. eksperimental : bertujuan untuk menetapkan apa yang mungkin terjadi.
2. Ex post facto : sama seperti eksperimental hanya disini peneliti tidak dapat secara langsung memanipulasi variabel bebas.
3. Deskriptif : melukiskan atau menggambarkan keadaan yang ada sekarang (pada saat penelitian berlangsung. Penelitian ini terdiri atas beberapa sub kategori :
a. Studi kasus. e. Analisis dokumenter.
b. Studi perkembangan. f. Studi kecenderungan.
c. Survei. g. Studi korelasi.
d. Studi tidak lanjut.
4. Historis : bertujuan untuk memberi tahu apa yang terjadi di masa lalu.


5. BAHASA PENELITIAN.
Para ilmuan memerlukan istilah-istilah tingkat empirisguna melukiskan pengamatan-pengamatan tertentu.

5.1. pengertian dan bangunan pengertian.
Pengertian atau konsep adalah suatu abstraksi dari kejadian-kejadian yang diamati. Pengertian adalah kata yang mewakili persamaan atau segi umum dari objek atau kejadian yang berbeda satu sama lain.

5.2. Spesifikasi arti.
Arti kata dalam kosa kata ilmuan harus ditetapkan.
5.2.1. Batasan konstitutif.
5.2.2. Batasan operasional.

5.3. Variabel.
Variabel adalah suatu atribut yang dianggap mencerminkan atau mengungkapkan pengertian atau bangunan-pengertian.
5.3.1. macam-macam variabel.
1. variabel bebas.(penyebab)
2. variabel terikat.(hasil)


6. SEJARAH PENELITIAN PENDIDIKAN.
6.1. Awal pengukuhan (1879).
Benih gerakan penelitian disemaikan pada tahun 1879, ketika Wilhelm Wundt mendirikan laboratorium psikologi-eksperimental yang pertama di Leipzig, Jerman. Studi-studi yang pertama itu terutama dipusatkan di sekitar ketajaman panca indera, waktu reaksi dan ketrampilan gerak (motor skills). Laboratorium Wundt ini merupakan kemajuan yang nyata di bidang penyelidikan tingkah laku manusia secara ilmiah. Studi-studi pra-ilmiah dalam bentuk seperti frenologi mulai memudar. Dari psikologi-eksperimental awal ini timbullah sejumlah prosedur penelitian di samping munculnya penghargaan terhadap metode eksperimental yang cermat dan ketepatan teknik yang nantinya akan mempunyai pengaruh pada penelitian pendidikan.
Perkembangan penelitian pendidikan juga sangat dipengaruhi oleh Sir Francis Galton (1822-1911), yang menyelidiki perbedaan-perbedaan individu di kalangan masyarakat. Orang Inggris yang jenius ini juga tertarik untuk mengembangkan alat-alat statistik guna menganalisis dan melukiskan data tentang perbedaan-perbedaan individual yang dimilikinya. Galton mempelopori penggunaan metode korelasi. Teknik-teknik statistik yang dikembangkan oleh Galton ini di kemudian hari dipakai dalam studi tentang masalah masalah kependidikan.
Di Amerika Serikat, James Mc Keen Cattell, yang pernah belajar di Jerman kepada Wundt dan juga terpengaruh oleh Galton, memulai suatu penyelidikan sistematis tentang perbedaan waktu reaksi individual pada fungsi penggerak indera (sensory-motor) yang dihubungkan dengan kecerdasan manusia. Pada tahun 1890, Cattell menulis artikel yang sekarang menjadi klasik berjudul ”Tes dan Pengukuran Mental”, yang untuk pertama kalinya memperkenalkan istilah ’tes mental’ ke dalam literatur. Cattell menekankan perlunya pembakuan prosedur tes guna memperoleh pengukuran yang sebanding dari para subyek. Apa yang dimulai Cattell ini mengakibatkan timbulnya studi sistematis tentang perbedaan-perbedaan individu dalam fungsi-fungsi kemanusiaan lainnya, termasuk pengukuran kecerdasan.

6.2. Awal penelitian pendidikan (1897).
Joseph M. Rice pada umumnya dikenal sebagai perintis dalam gerakan penelitian pendidikan. Di tahun 1897, ia menerbitkan dua artikel yang melaporkan hasil penyelidikannya tentang hasil belajar mengeja (spelling) anak-anak sekolah di Amerika Serikat. Karya ini dianggap sebagai awal mula gerakan modern penyelidikan obyektif terhadap masalah-masalah pendidikan.
Penelitian Rice cenderung menunjukkan bahwa metode pengajaran mengeja yang digunakan pada zaman itu yang mengutamakan drill (latihan yang berulang-ulang), sebagian besar tidak efektif. Ia memperoleh banyak tantangan dari para pendidik, yang menganggap evaluasi terhadap metode mengajar dengan jalan mencari tahu seberapa jauh anak-anak dapat menulis ejaan sebagai perbuatan bodoh.
Rice menyelidiki metode mengajar di beberapa daerah lain dan mencoba menunjukkan kelemahan teori-teori pendidikan yang berlaku di abad kesembilan belas. Dalam karya Rice, orang dapat melihat pembentangan pendirian yang menekankan pentingnya penelitian di dalam pola pemikiran total mengenai pendidikan, suatu wewenang untuk menilai kelebihan dan kelemahan praktek-praktek pendidikan serta menyarankan jalan ke arah perbaikan.

6.3. Periode perintisan (1900-1920).
Sebagian besar para ahli telah sepakat menetapkan tahun 1900 sebagai saat dimulainya era ilmiah di bidang pendidikan. Periode dari tahun 1900-1920 adalah masa eksplorasi dan pengembangan alat pengukur yang diperlukan oleh para peneliti. Di tahun 1905, Alfred Binet menerbitkan skala kecerdasan praktis yang pertama, sesuatu yang sangat dibutuhkan di negerinya pada waktu itu. Tes-tes Binet diterjemahkan dan diterbitkan dalam beberapa versi, di antaranya yang terpenting ialah ’Tes Kecerdasan Stanford-Binet’, yang dikembangkan oleh Terman pada tahun 1916.
Edward L. Thorndike menjadi tokoh yang berpengaruh kuat dalam penyebaran dan pengembangan tes pendidikan baku (standart). Ia menerbitkan skala tulisan tangannya di tahun 1910, yang sering disebut sebagai alat pertama yang ditera secara ilmiah guna mengukur hasil pendidikan. Di antara tes tes hasil belajar yang pertama ialah tes berhitung oleh Stone, tes ejaan oleh Buckingham dan tes bahasa oleh Trabue.
Tes kecerdasan kelompok dimulai pada waktu Perang Dunia I, yang sebagian besar disebabkan oleh karya Otis, dan selanjutnya menjadi alat pengukur yang banyak dipakai dalam penelitian pendidikan. Pada tahun 1920 telah dapat diperoleh tes-tes individu maupun kelompok untuk mengukur kecerdasan verbal maupun non-verbal. Tes-tes bakat, seperti Seashore Test of Musical Talent.
Pada era ini, banyak bermunculan penyelidikan ilmiah di bidang pendidikan dengan menggunakan statistik. Studi statistik yang pertama tentang kemajuan anak-anak di sekolah dilakukan oleh Thorndike (1901), Ayres (1909) dan Strayer (1911). Berkat penelitian mereka, maka norma-norma hasil belajar secara nasional bagi semua tingkatan kelas dapat ditetapkan, serta kemajuan anak-anak berdasarkan norma-norma ini dapat di evaluasi.

6.4. Periode perluasan (1920-1945).
Periode ini merupakan masa perkembangan yang pesat bagi penelitian pendidikan. Jumlah alat ukur yang tersedia bagi para peneliti bertambah dengan pesat, ditandai dengan terbitnya Mental Measurement Year-Book. Penelitian pendidikan ditetapkan sebagai suatu bidang studi di perguruan tinggi. Program sarjana bidang pendidikan mulai menjadikan penelitian pendidikan sebagai mata kuliah wajib.
Buku karya Mc Call ’How to Experiment in Education’ yang terbit di tahun 1923, merupakan salah satu dari buku-buku pertama yang membahas masalah pengendalian dalam eksperimentasi pendidikan. Dan terobosan besar juga terjadi di tahu 1935, ketika Fisher mengembangkan desain-desain statistik variabel berganda (multivariat statistical designs).

6.5. Penilaian secara kritis (1945-sekarang).